Shopping Cart
Your Cart is Empty
Quantity:
Subtotal
Taxes
Shipping
Total
There was an error with PayPalClick here to try again
CelebrateThank you for your business!You should be receiving an order confirmation from Paypal shortly.Exit Shopping Cart

TALENTA ORGANIZER

  Art Dealers & Management

Blog

Dari Pameran Seni Rupa DINDING dalam rangka hari jadi Plaza Indonesia ke 32


Dinding

*Pada Sebuah Dinding*

Mendengar kata dinding, apa yang langsung anda ingat? Lagu "Cicak di dinding" barangkali,q atau versi Inggrisnya "The Wall" yang lekat dengan sebuah lagu rock terbilang fenomenal sekaligus monumental itu. Atau malah teringat pada dinding pemisah ideologi bernama Tembok Berlin di Jerman atau bahkan Great Wall di China. Apa pun ingatan anda tentang diinding ternyata bergantung pada subyektivitas dan juga umur anda.

Ketika saya tanyakan pertanyaan yang sama pada anak muda, anak milenial, anak generasi Z tepatnya, jawaban mereka sungguh menarik. Mereka bilang dinding itu menunjukkan identitas kita. Lho? Saya sempat bingung,... oh ternyata mereka menterjemahkan dinding sebagai wallpaper di gadget atau gawai, perangkat digital yang merupakan akun mereka.

Nah, soalan dinding atau The Wall inilah yang menjadi tema utama pada pameran kali ini. Sebuah pameran tahunan, juga sebuah peringatan ulangtahun ke 32 Plaza Indonesia. Ruang publik berbentuk Mall terkemuka ini terbukti selalu mendukung seni karya seniman Indonesia. Pada kesempatan ini menampilkan 32 karya dari 18 perupa yang terkemuka pula.

Tulisan pendek ini akan mencoba menelisik hubungan antara dinding dengan karya rupa dan juga degan kiprah dan kepedulian PI terhadap perkembangan seni budaya di Indonesia khususnya senirupa. Kita mulai dari yang paling sederhana namun nyata; seluruh karya terdebut pastinya akan didisplay alias terpajang di dinding PI. Menariknya peristiwa itu sama sekali tak terhenti, bahkan ketika pandemi. Tercatat pada tahun 2020, di ulangtahun ke 30 dan juga awal terjadinya pandemi. Lalu ditahun berikutnya 2021 di peringatan ke 31 di tengah pandemi dan tahun ini, di perayaan ulangtahun yang ke 32, tatkala pandemi belum benar usai --bahkan dibayangi ganasnya varian omicron-- peristiwa budaya penting ini tetap terselenggara dengan baik.

Realita di atas adalah bukti betapa erat kaitan antara ketiganya; dinding, karya rupa dan Plaza Indonesia. Dan kita akan melihat lebih lagi manakala menyaksikan karya *LIni Natalini Widhiasi*, berjudul *"Di Hutan KIta Kembali Pada Akal dan Iman"* sebuah karya unik berbahan alumunium dan metal paint. Berbagai lempengan yang disusun sedemikian rupa sehingga nampak artistik penuh warna dinamis. Ia tak sekadar menggantung pada dinding, malah telah berhasil melumat dinding. Dengan kata lain ia mampu melewati dinding yang ada di jantung kota Jakarta dan langsung membawa kita ke hutan belantara.

Pada *"Percakapan Akhir Tahun"* lukisan karya *Maslihar Panjul*, sangat bisa jadi kita tidak mampu mendengarnya secara fisik. Namun sangat percaya bahwa pasti ada yang mampu mendengarnya dengan seksama, sebab ada ungkapan, "dinding pun bertelinga"

Sebagaimana Lini, lukisan acrylic di atas kanvas *"Balance of Nature #2"* karya *Ernanta Item* juga mengajak kita untuk kembali menjaga keseimbangan alam. Menggambarkan gunung ungaran, hutan lindung, sembilan artefak candi gedong songo dan sembilan burung.

Lagi-lagi ketiadaan dan atau peniadaan dinding justru menjadikan segalanya lebih menyenangkan. Lihatlah itu pada *"Happy Day Series"* karya *Indra Dodi* Tergambar jelas senyum dan kebahagian mengembang di setiap obyek atau subyek lukisan bernuansa warna cerah ceria ini.

Meski sama-sama berwarna ceria, lukisan *Erianto a k a Mak Etek* berjudul *"Space of Life"* justru berbicara sebaliknya; tentang adanya batas/dinding/pemisah yang tegas antara hitam dan putih. Pemisahan/pembedaan/pengkotakan adalah keniscayaan dalam kehidupan ini. Namun nyatanya ia tak cukup mampu menghalangi yang hidup di dalamnya untuk saling melintas demi berbaur bersama.

Lewat *"The Best Offering"* *Deddy PAW* ingin menyatakan bahwa sudah seharusnya manusia memberikan persembahan terbaik bagi Penciptanya. Metafora naratif itu ia tunjukkan melalui 9 varian buah apel, kupu-kupu dan abstraksi air yang bergemuruh serta aneka

simbol (agama) yang ia tuliskan secara dua dimensi, bagai menulisi dinding yang rata pada lukisannya.

Ada sebuah gambar yang dibagi menjadi 5 bidang atau sebaliknya ada 5 bidang yang disatukan menjadi sebuah gambar besar. Tidak penting yang mana, yang jelas ada pemisah antara 4 gambar yang mirip dan satu gambar yang berbeda. Pemisahan atau penyatuan ini demi menunjukkan adanya perbedaan itu. Demikianlah cara *AT Sitompul* menyampaikan gagasannya melalui karya berjudul *"Be Somebody"*

*Teguh Sariyanto* meletakkan berbagai benda pada sebuah dinding atau latar berwarna kecoklatan. Beberapa dapat kita kenali sebagai benda tertentu. Selebihnya tidak jelas itu benda apa. Bukanlah sebuah soal, karena si pelukis mengisyaratkan persuasi yang menuntun kita untuk menyusun kumpulan benda tersebut membentuk sesuatu, sebagaimana judulnya, *"Benda Benda Membentuk #46"*

Lain lagi *Ary Kurniawan*, judulnya *"Cerah"* warna pilihannya pun juga cerah pula. Menggambarkan lelaki muda dengan baju hijau. Di latar belakang nampak hujan deras berlatar biru. Hujan kok dikatakan cerah? Ah barangkali karena ia terlindung oleh dinding anti bocor-bocor maka urusan di luar bukanlah urusannya asalkan ruangnya tetap cerah tanpa basah.

Saya menemukan kembali kumpulan aneka bentuk dan atau benda disusun repetitif dalam spasi yang kurang lebih sama. Judulnya pun sama persis dengan pelukis sebelumya, *"Benda Benda Membentuk"* meski tanpa nomor seri. Kali ini karya *Raka Hadi Permadi*. Uniknya "kemiripan" ini juga terdapat pada cukup banyak karya pelukis lainnya. Tidak 100% sama, namun memiliki pola penataan obyek yang disusun dalam jarak tak terlalu berjauhan alias agak rapat dengan bentukan dan warna bercenderungan satu nuansa. Adakah ini ciri utama style atau gaya melukis termutakhir? Hingga Plaza Indonesia sengaja mengumpulkannya dalam satu dinding pameran?

Rasanya "tuduhan" saya tak terlalu berlebihan. Pada dua lukisan *Soni Irawan*. *"Fly with Zorro"* dan *"Follow The Zorro"* saya juga membaui pengulangan bentuk. Meski sekali lagi bukan sama persis namun jejak visualnya masih terkesan mirip. Namun lagi justru itulah kekuatan karya a la street art ini. Keliaran goresan spray paintnya sangat terasa.

Walau juga melakukan pengulangan bentuk, tapi menurut saya *Arief Dhiyaurrahman* bukan mengamalkan repetisi. Melainkan bahwa kereta roller coaster memang tak mungkin digambarkan tunggal. Pun gedung bertingkat di belakangnya serta konstruksi besi baja penyangganya memang mengandung pengulangan. Ini kebutuhan. Secara visual ada unsur itu tapi narasi yang diperlukan untuk membunyikan lukisan berjudul *"Ordinary Life"* cukup mencocoki.

Di lukisan karya *Asmoadji* saya tidak menemukan pengulangan lagi. Ia lebih banyak mengisi bidang dinding kanvasnya dengan goresan yang flat. Datar tapi penuh warna. Senada dengan itu adalah karya *Dicky Prasetyo*. Terutama pada karya yang berjudul *"Harmonious Couple"*

Pada *"Kucing Hutan dan Buaya Bermain di Pinngir Danau di Tepi Desa"* *Agung Pekik* mencoba mengajak kita untuk bermain dengan logika. Sebagaimana kebanyakan lukisan atau grafisnya yang selalu rumit dan terperinci. Ditailnya sungguh mempesona. Ditail yang tak kalah asyiknya adalah karya *Don Bosco Laskar* berjudul :

*"Ajakan di Musim Pancaroba"*

*Heru Priyono* dengan *"Magic Breakfaatnya"* punya daya ganggu lumayan kuat. Perhatikan pemilihan obyek makanannya. Sebuah temuan yang tak biasa. Dan terakhir *MA Roziq* cukup puitis dengan dua karyanya yang berwarna menyala.

Dari 32 karya 18 perupa di pameran ini, saya mendapati semacam simpulan tema "Dinding" yang ditawarkan kepada peserta oleh Talenta Organizer atau bahkan oleh Plaza Indonesia sendiri adalah pilihan cerdas. Terbukti mampu menghasilkan ragam karya yang kaya. Bahwa ada beberapa yang punya kesukaan sama melakukan repetisi tak terhindarkan. Barangkali, sebagaimana saya asumsikan di muka ini adalah semacam trending topic. Apa pun itu, pameran layak diapresiasi dengan antusias.

Yogyakarta, 27 Februari 2022

*Yuswantoro Adi*

Pelukis yang Menulis Seni Rupa.

Dari Pameran REPOSISI kelompok Liquid Maret 2022

REPOSISI : Episode Sebuah Tanda

Seni rupa kontemporer sesungguhnya masih menjadi sebuah mitos untuk menjadi semacam pendulum--sebagai tolok ukur penentu karya lukisan itu laku atau tidak--dari praktek manajemen seni di indonesia. Dalam situasi hegemoni semacam ini, kelompok seni rupa LIQUID COLOUR hadir dalam sebuah pameran yang diikat dalam sebuah tajuk REPOSISI, di Pop Up Gallery Talenta, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, 3 Maret sampai 3 April 2022.

Pameran ini lebih tepat adalah menjadi sebuah upaya dari empat perupa yang tergabung dalam Liquid Colour untuk penjelajahan estetik dalam menentukan tanda untuk posisi mereka dalam peta seni rupa Indonesia. Dimana seni rupa hari ini yang semakin terbuka dan identik dengan industrial art. Disamping mereka juga harus berani menentukan tanda menunjukkan posisi pentingnya pemikiran. Dimana belakangan ini sering muncul anggapan pemikiran sering terpinggirkan oleh kepentingan seni industri itu sendiri.

Dalam sejarah perkembangan seni, khususnya seni rupa, keberadaaanya tidak bisa dipisahkan dari hubungannya dengan realitas. Apakah ia tiruan ikonik dari realitas atau representasi dari realitas. Atau apakah justru ia adalah realitas itu sendiri. Inilah yang kemudian menimbukan suatu ‘tanda’ dalam kekaryaan seni, khususnya seni rupa. Tanda diperlukan manusia untuk bisa memaknai sesuatu dengan baik.

‘Tanda’(Sign) adalah segala sesuatu yang mengandung makna, yang memiliki unsur penanda (bentuk) dan petanda (makna). Masing-masing personil Liquid Colour berusaha membawa tanda ini ke dalam karya-karya mereka. Representasi posisi mereka yang bisa dibilang sudah lama di dunia seni rupa mereka pertahankan dengan ‘tanda’ dalam karya-karya mereka.

Dan di saat dunia dalam cengkeraman Pandemi Covid-19, dan saat ini masuk di tahun ke-3, Choirudin Roadin, Endrobanyu, Muji Harjo dan Sigit Raharjo bukan hanya semata-mata berupaya mempertahankan posisi dalam seni rupa Indonesia. Keempat perupa Liquid Colour ini tentu juga melontaran ‘tanda’ berupa gagasan dan pesan penting yang patut digarisbawahi. Mereka hadir untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar larut dalam seni industri yang berkembang hari ini. Mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki ideologi dalam berkarya.

Liquid Colour sebuah kelompok yang belum lama berdiri, akan tetapi kemunculannya cukup menjadi perhatian dalam perkembangan seni rupa indonesia. Sejak pameran pertamanya pada tahun 2017 silam, kelompok ini selalu menghadirkan karya kolaborasi. Dan tentu kelompok yang terdiri dari empat perupa ini, yang kebetulan setiap anggotanya mempunyai ciri khas di setiap karya-karyanya. Maka, ketika hadir melalui karya kolaborasinya, menjadikan satu kekuatan dan pembeda dengan kelompok seni rupa lainnya. Kehadirannya hari ini, walaupun tanpa menghadirkan karya kolaborasi seperti pameran sebelumnya. Mungkin saja ini adalah sebuah strategi untuk memposisikan diri dalam persentuhan hari ini.

Choirudin Roadyn hadirkan lukisan figur manusia dan binatang, yang ditampilkannya dengan cita rasa artistik yang khas. Ia bermain-main dengan brushstroke dan warna-warna yang dinamis. Setiap objek yang dilukisnya, ia hadirkan dengan adegan penuh cerita. Ia seperti memainkan kutipan-kutipan sejarah dan pengetahuan yang terus bergerak. Lihat saja bentuk-bentuk lingkaran bertabur di kanvasnya. Seolah seperti butiran-butiran udara yang terus bergerak membawanya dalam lingkaran-lingkaran kehidupannya yang seperti udara. Mampu masuk kemana saja dan mudah menyesuaikan.

Endrobanyu, lelaki yang teles (bertangan basah). Dalam karyanya ia menampilkan figur yang dikoyak dengan sapuan brushstroke secara kuat dan acak. Seolah ingin menunjukkan energi, yang bukan saja sekadar sebagai upaya meraih artistik dan estetik semata. Butiran-butiran air yang menjadi identik dengan karya-karya juga tak sekadar sebagai syarat sebuah keindahan yang ia tawarkan. Endro juga tidak sekadar menyajikan falsafah air dalam setiap karyanya. Air baginya adalah dirinya. Endro lahir dari pegunungan kapur, tak jauh dari Gua Selarong tempat bersembunyi Pangeran Diponegoro. Air begitu penting, sebab Endro ingin membawa energi dari masa kecilnya hingga ia tumbuh besar hari ini, menimba air adalah sebuah perjuangan. Seperti Bima, yang tak putus asa untuk mencari air suci Perwitasari.

Muji Harjo, pria yang lahir dan besar di lingkungan Keraton Yogyakarta, namun tampak justru tidak merasa dekat dengan kehidupan Keraton dan sekitarnya. Ia justru tampak apa adanya seperti lelaki yang hidup di alam pedesaan. ‘Adoh Ratu, Cedak Watu’--sebuah peribahasa yang bisa diartikan ‘Orang desa jauh dari Ratu, tapi dekat dengan batu’--jutru tidak berlaku pada Muji Harjo. Ia yang tinggal di kota dan dekat dengan keraton, namun ia malah merasa dekat dengan ‘batu dan alamnya’. Maka tak khayal jika Muji lantas menghadirkan batu-batu dalam bahasa visualnya. Batu-batu yang ia lukiskan pun bukan batu-batu sembarangan, tetapi batu-batu mulia hingga emas dan permata. Semua ditata dalam karyanya dan menghasilkan sebuah fragmen yang indah dan berkilau. Muji di sini cukup jelas, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah perupa yang tegar dan kuat bagai watu kali (batu sungai), yang tak mudah hancur diterpa arus.

Sementara Sigit Raharjo lebih menangkap tanda-tanda dalam realita kehidupan dengan citra realistik fotografis. Tanda-tanda yang dihadirkan Sigit seolah menggugah perasaan kita tentang kehidupan hari ini. Realitas dibidik oleh Sigit, didramatisasikan menjadi pesan-pesan melalui tanda yang terselubung. Tanda yang mengisyaratkan tentang dialektika ruang tentang kehidupan hari ini yang penuh drama yang tak terduga. Dan tentu berpotensi menggugah kesadaran banyak hal yang tak terduga. Persoalan sosial yang dihadikan Sigit melalui tanda, menjadi estetik kasat mata dihadirkan dengan balutan bahasa yang universal. Lukisan Sigit tentu tidak sekedar memainkan kepiawaian tangan secara realis fotografis, secara ambigu ia berani memainkan apa yang ia hadirkan diatas kanvas menjadi sebuah tanda yang sering kali orang abai tak meliriknya.

Pameran kelompok Liquid Colour kali ini, tentu saja tidak sekadar untuk menunjukan reposisi para perupanya, tetapi juga memiliki kekuatan pembacaan bentuk-bentuk formal sebagai pola konstruksi pada tanda-tanda melalui setiap karya yang dipamerkan. Ini semacam wahana estetik yang disuguhkan melalui romantisme perjalanan keempat perupa ini, sekaligus sebagai penanda ideologi dalam seni rupa hari ini.

Selamat berpameran dengan hati gembira...

Bantul, 23 Februari 2022

Yaksa Agus

Penulis alumni FSR ISI Yogyakarta

Blog

Mengenai sertifikat karya seni

Posted by talentaorganizer on July 23, 2020 at 11:45 PM Comments comments (38706)

Mengenai sertifikat karya seni
Secara umum pada karya seni baik lukisan atau karya 3 dimensi para seniman sudah melengkapi dengan tanda tangan ataupun tanda tanda khusus pada karya seni yang dibuat olehnya, misal pada lukisan selalu akan dicantumkan tanda tangan dan tahun dibuat
Pada karya seni 3 dimensi misal patung, akan dicantumkan tanda tangan dan tahun kapan karya tersebut dibuat dibagian yang tersembunyi, tetapi hal tersebut sangat mudah untuk dipalsukan apabila kita tidak paham akan karya tersebut sehingga adanya sertifikat karya seni rupa, baik untuk lukisan maupun karya 3 dimensi sangat dianjurkan untuk setiap karya seni yang kita koleksi.
Apa fungsi dari sertifikat untuk karya yang kita miliki atau koleksi
Salah satu fungsinya adalah memastikan bahwa karya seni tersebut adalah asli bukan palsu atau tiruan, fungsi berikut adalah memudahkan apabila kita akan menjual karya seni tersebut, karena para kolektor akan menanyakan ada tidaknya sertikat dari karya tersebut.
Selain itu apabila kita membeli karya seni dari pihak ke 3, bukan dari seniman langsung, apabila suatu ketika kita mengetahui bahwa lukisan tersebut palsu maka secara otomatis sertifikat tersebut juga palsu, sehingga kita bisa mengembalikan karya tersebut pada penjual.
Siapa yang berhak mengeluarkan sertikat untuk karya seni, adalah seniman itu sendiri, dimana didalam sertifikat tersebut dicantumkan antara lain :
Kapan sertikat karya tersebut dibuat (misal : 20 Mei 1996)
Ukuran atau dimensi karya seni tersebut (misal : 100 x 100 CM pada lukisan, 125 x 130 x 10 CM pada Patung)
Material dari karya seni tersebut (misal : Oil On Canvas pada lukisan, Perunggu pada Patung)
Untuk karya 3 dimensi terkadang di cantumkan edisi dari karya tersebut (misal : Edisi 3, yang berarti patung tersebut telah dicetak untuk ke 3 kalinya)
Untuk bentuk, ukuran ataupun format sertifikat tersebut bisa berbeda dari masing masing seniman, misal ada yang dilengkapi dengan barcode, atau dilengkapi dengan cap bahkan foto seniman itu seendiri bahkan didalam sertifikat dimuat foto karya bersama dengan sang seniman
Beberapa seniman melengkapi dengan ciri atau tanda tanda khusus untuk menjamin keaslian sertifikat tersebut.
Apakah serifikat seni ini hanya untuk seniman besar atau seniman baru, sangat dianjurkan untuk setiap karya seni baik itu dari seniman muda atau yang pada saat sekarang harganya belum tinggi tetap dilengkapi dengan sertifikat, kita tidak tau dimasa depan seniman tersebut akan menjadi seniman besar dan harga karya seninya menjadi mahal,
Beberapa seniman ada yang bernaung dibawah satu management, sehingga bisa saja sertifikat tersebut dibuat, ditandatangani oleh pihak management tetapi tetap harus ada tanda tangan sang seniman sebagai pembuat karya. Penyelengara pameran seni juga kadang kadang mengeluarkan sertifikat pada saat karya tersebut terjual pada waktu pameran berlangsung, tetapi tetap harus ada tanda tangan dari seniman sebagai pembuat karya

Demikian sekilas mengenai perlunya sertifikat karya seni semoga bermanfaat.

https://www.talentaorganizer.com/about-art" target="_blank">http://https://www.talentaorganizer.com/about-art